21
Januari 2015 liburan ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pun dimulai. Sebuah perjalanan
singkat menuju suatu kota kecil yang
telah membentuk karakter saya sepanjang umur saya hingga saat ini. Perjalanan dimulai
ketika pukul 6 pagi saya berangkat naik
travel dari Jogja menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang. Tentunya dengan satu
lelaki terbaik saya, T R. Dengan jarak tempuh selama 3 jam, akhirnya saya tiba
di bandara. Sebuah kondisi yang ‘wow’ sekali bagi saya. Kondisi bandara yang sangat
ramai pengunjung, fasilitas yang kurang terpenuhi, keramahan yang tidak saya
temukan dari biasanya orang Jawa. Saya sempat berpikir, ini bandara atau stasiun kereta? So
sorry to say, but it’s fact.
Pukul 1.30
siang, berangkatlah saya dengan salah satu pesawat andalan Kalimantan. Pesawat baru
yang cukup baik menurut saya. Perjalanan ini akan saya tempuh selama 45 menit.
Singkat bukan? Tapi kali ini, perjalanan ini menjadi perjalanan pesawat yang
terasa lama bagi saya. Masih terbayang ketakutan menaiki pesawat pasca berita
jatuhnya Air Asia yang menewaskan kurang lebih 160 orang beberapa waktu yang
lalu. Kali ini saya take off dalam
cuaca yang cukup buruk.
Setengah
jam berlalu, Pilot berbicara bahwa saat itu kami terbang dalam kondisi buruk. Saya
masih tenang-tenang saja memandangi bingkisan yang diberikan oleh T R. Hujan
mulai menyambangi jendela pesawat. Tiba-tiba kabut. Kami berada dalam awan mendung
besar yang cukup panjang. Tidak terlihat apa-apa di bawah sana. Saya masih
tenang. Kemudian seorang pramugari mulai mengingatkan bahwa kami sedang dalam
penerbangan dengan keadaan buruk dan tetap tenang. Beberapa orang-orang tua di
pesawat mulai panik dan terus menyerukan “Allahu Akbar”. Beberapa bayi
menangis. Saya mulai tidak tenang. Masih dengan perasaan takut dan tangan yang
memegang sebuah bingkisan dari T R, saya coba menenangkan diri saya. Saat itu
saya bicara pada diri saya dan Tuhan, saya pasrah atas apa yang akan terjadi. 1
jam berlalu, pesawat juga belum keluar dari awan besar yang mendung tersebut.
Hingga akhirnya setelah lama berputar-putar mencari titik terang, 15 menit kemudian saya melihat ada banyak
rumah-rumah yang tampak seperti miniatur dari jauhnya jarak pandang saya.
Alhamdulillah saya dibebaskan dari awan besar yang bisa saja menelan saya kapan
saja dia mau.
Saya sampai
di sebuah bandara yang lebih tidak recommended.
Tapi saya harus bilang recommended untuk
landasan pacu nya. Begitu panjang, sehingga pesawat bisa landing dengan baik dan tidak tergesa-gesa. Masuk menuju ruang
pengambilan barang, saya langsung dilihatkan dengan keadaan manusia-manusia
normal yang bergerak seperti orang mabuk. Terburu-buru untuk mengambil barang
sampai menabrak orang lainnya dengan troli yang besar. Menginjak alat pemindah
barang seenaknya. Berteriak seperti sedang di hutan. Apakah mereka tidak bisa
berpikir sehat dan mulai mencintai fasilitas seadanya ini? Pandangan saya
tertuju pada satu pekerja di tempat itu. Dia berusaha mengingatkan para
pendatang untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan berkali-kali, tapi
hasilnya nol. Mereka bahkan dengan mudah cuek saja. Yaaa, Selamat datang di
Lanud Iskandar, Pangkalan Bun. Selamat berlibur di kota yang masih kecil, lugu,
dan kental adatnya. Have Fun J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar