I'm who I am (Ksatria Jambon)

Rabu, 04 Februari 2015

Pengalaman

             21 Januari 2015 liburan ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pun dimulai. Sebuah perjalanan singkat menuju suatu kota  kecil yang telah membentuk karakter saya sepanjang umur saya hingga saat ini. Perjalanan dimulai ketika pukul  6 pagi saya berangkat naik travel dari Jogja menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang. Tentunya dengan satu lelaki terbaik saya, T R. Dengan jarak tempuh selama 3 jam, akhirnya saya tiba di bandara. Sebuah kondisi yang ‘wow’ sekali bagi saya. Kondisi bandara yang sangat ramai pengunjung, fasilitas yang kurang terpenuhi, keramahan yang tidak saya temukan dari biasanya orang Jawa. Saya sempat berpikir, ini bandara atau stasiun kereta? So sorry to say, but it’s fact.

            Pukul 1.30 siang, berangkatlah saya dengan salah satu pesawat andalan Kalimantan. Pesawat baru yang cukup baik menurut saya. Perjalanan ini akan saya tempuh selama 45 menit. Singkat bukan? Tapi kali ini, perjalanan ini menjadi perjalanan pesawat yang terasa lama bagi saya. Masih terbayang ketakutan menaiki pesawat pasca berita jatuhnya Air Asia yang menewaskan kurang lebih 160 orang beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya take off dalam cuaca yang cukup buruk.


              Setengah jam berlalu, Pilot berbicara bahwa saat itu kami terbang dalam kondisi buruk. Saya masih tenang-tenang saja memandangi bingkisan yang diberikan oleh T R. Hujan mulai menyambangi jendela pesawat. Tiba-tiba kabut. Kami berada dalam awan mendung besar yang cukup panjang. Tidak terlihat apa-apa di bawah sana. Saya masih tenang. Kemudian seorang pramugari mulai mengingatkan bahwa kami sedang dalam penerbangan dengan keadaan buruk dan tetap tenang. Beberapa orang-orang tua di pesawat mulai panik dan terus menyerukan “Allahu Akbar”. Beberapa bayi menangis. Saya mulai tidak tenang. Masih dengan perasaan takut dan tangan yang memegang sebuah bingkisan dari T R, saya coba menenangkan diri saya. Saat itu saya bicara pada diri saya dan Tuhan, saya pasrah atas apa yang akan terjadi. 1 jam berlalu, pesawat juga belum keluar dari awan besar yang mendung tersebut. Hingga akhirnya setelah lama berputar-putar mencari titik terang,  15 menit kemudian saya melihat ada banyak rumah-rumah yang tampak seperti miniatur dari jauhnya jarak pandang saya. Alhamdulillah saya dibebaskan dari awan besar yang bisa saja menelan saya kapan saja dia mau.
         Saya sampai di sebuah bandara yang lebih tidak recommended. Tapi saya harus bilang recommended untuk landasan pacu nya. Begitu panjang, sehingga pesawat bisa landing dengan baik dan tidak tergesa-gesa. Masuk menuju ruang pengambilan barang, saya langsung dilihatkan dengan keadaan manusia-manusia normal yang bergerak seperti orang mabuk. Terburu-buru untuk mengambil barang sampai menabrak orang lainnya dengan troli yang besar. Menginjak alat pemindah barang seenaknya. Berteriak seperti sedang di hutan. Apakah mereka tidak bisa berpikir sehat dan mulai mencintai fasilitas seadanya ini? Pandangan saya tertuju pada satu pekerja di tempat itu. Dia berusaha mengingatkan para pendatang untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan berkali-kali, tapi hasilnya nol. Mereka bahkan dengan mudah cuek saja. Yaaa, Selamat datang di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun. Selamat berlibur di kota yang masih kecil, lugu, dan kental adatnya. Have Fun J




Tidak ada komentar: