I'm who I am (Ksatria Jambon)

Senin, 13 Mei 2013

SEJAK MAS SUBANCUK GILA TAHTA


Semua pasti baik-baik saja, pikirku. Masih ada waktu untuk mengambil nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya sampai selega mungkin. Terlalu membohongi diri sendiri sepertinya. Jelas diantara banyak anggota lain yang sedang terkumpul dalam rapat redaksi kali ini, sangat tampak sekali bahwa akulah satu dari sekian banyak anggota lain yang sedang tidak baik-baik saja. Pikiranku sudah mulai dihantui kekhawatiran, darahku berdesir dan satu lagi, organ paling peka yang satu ini sedari tadi sudah berdetak tak karuan seperti mendobrak untuk segera keluar dari tubuh ini. Oke! Aku putuskan untuk pulang lebih awal sebelum rapat selesai. Aku bilang saja ‘magh’ ku kambuh lagi. Itu alasan klise, asal kalian tahu.
***
            Ya. Kali ini bukan kali biasanya yang aku rasa setiap mendatangi bangunan mini ini. Perlahan masuk kamar, bercermin, berkipas sambil mengamati ruangan ini memastikan bahwa masih ada graffiti namaku di sini. Untuk diketahui saja, ini caraku untuk mematikan ketegangan di antara kami. Alhasil tidak berhasil. Aku masih saja dikepung rasa ketakutan sendiri. Iya, dia begitu dingin padaku sampai untuk sekedar memulai perbincangan pun aku was-was. Lidahku kelu, berkali-kali ingin memulai pembicaraan tapi yang terjadi aku hanya melakukan hal bodoh seperti menelan ludah tiada henti.
“Kamu sakit?” aku mulai mengawali basa-basi.
“Sedikit tidak enak badan sejak semalam.” Tuturnya dingin.
Aku berusaha mengerti.
“Sudah diperiksa?minum obat barangkali mas?”
“Tidak ada waktu untuk periksa.”
Aku mengerti dia sedang menyindirku.
“Aku bisa menemanimu periksa, dan merawatmu. Tapi, itupun aku tidak memaksa. Kalau kamu mau saja.”
“Tidak perlu. Aku masih punya banyak hal yang harus segera diselesaikan.”
Aku masih mengerti dengan kesibukan dari profesinya beberapa bulan ini.
            Rasanya perih sekali harus seperti ini. Masih terekam jelas, sejak beberapa bulan yang lalu tepatnya ketika dia resmi berprofesi sedikit terpandang di kampusku. Dia sudah jarang lagi menyapaku hangat, akupun tidak menyapa. Meskipun semua orang tahu kita terlalu dekat untuk dipisahkan. Dia sudah tidak lagi menghubungiku bahkan hanya untuk sekedar memberikan kabar tentang kesibukannya seharian dengan tetap menggunakan panggilan sayang, jika tidak aku yang memulai menghubungi dan bertanya baik-baik. Dia sudah tidak pernah menjengukku ketika aku terbaring sakit karena memikirkannya, akupun mulai berani bersikap seperti itu. Dia sudah tidak pernah lagi mengajakku pergi berlibur barang sehari dalam seminggu, aku mencoba memaklumi dan mencari kesenanganku sendiri dan juga tetap memikirkannya. Dia sudah lama tidak berbagi cerita dan masalah padaku, akupun ternyata mulai tidak berani bercerita padanya.  Segala ketakutanku semakin memuncak, aku takut merepotkan, mengganggu kesibukan dia.
 Dia sudah benar-benar tak ingin bicara apalagi untuk menatapku. Ini bukan ‘kita’ yang dulu, berontakku dalam hati. Aku tidak tahu harus kepada siapa menyalahkan kehadiran masalah ini. Aku sangat paham sekali kita sama-sama berada dalam ketidaknyaman saat ini.
            Kita masih sama-sama terlibat dalam pembicaraan hebat pada masing-masing pikiran dan perasaan sendiri. Sesekali aku menoleh ke arah laptopnya yang luar biasa di desain dengan sangat sangar, berpura-pura asyik menyaksikan film barat yang sedang dia putar dan sedikit juga tidak mau berkilah ingin mencuri kesempatan mengamati detail wajahnya.
“Kamu terlihat capek sekali, mau aku suapin makan?”
“Tidak perlu.”
“Ya sudah, atau kamu mau aku pulang saja sayang?” kataku memelan.
“Jangan, sebentar lagi.”
“Oh.”
            Andai saja dia tahu, ada perempuan yang menangis hatinya melihat kondisinya seperti sekarang ini. Teramat sangat lusuh, rambutnya belum dipotong, badannya terlihat lebih kecil, jadi seperti tidak terurus. Aku tidak terima jika profesi barunya menggerogoti badan dan semangatnya. Bisa jadi dia semacam dipaksa melakukan tindakan diluar kehendak dan kesenangan ya?atau mungkin dia punya masalah dengan keluarganya yang tidak aku ketahui?atau ada beberapa teman yang menghancurkan mood dia hari ini?atau mungkin dia sedang gelisah karena perempuannya yang lain belum juga menghubungi?atau mungkin aku penyebab dari segala yang terjadi padanya,”Aku membebanimu?Maaf, aku lancang menerka-nerka pikiranmu, entah sejak kapan aku mulai kurang mempercayaimu. Mungkin saja sejak kita sama-sama menyimpan kebahagiaan dan kesedihan masing-masing.” Pikirku.
            Deg!!!!ini kali pertamanya sinar mata itu seolah menghakimi. Darahku berdesir dan…barangkali ini salah, tapi yang tertangkap oleh lensa mataku adalah sebuah tatapan ingin mencemooh. Aku semakin dibuat ketakutan dengan sikap dingin itu. Berusaha untuk rileks, mengatur nafas yang sedari beberapa bulan yang lalu tidak bisa terhembus lega dan plong!!. ,ah yaa, sepertinya juga harus benar-benar  mempersiapkan hati atas kemungkinan buruk yang terjadi bahwa setelah pertemuan ini cerita hidupku tidak sama lagi.
            Beberapa menit berlalu, tidak ada yang bergerak diantara kami. Hanya dua pasang bola mata saling beradu.
            Tepat jam 00.00, dia mulai bicara. Kejutan yang sungguh mengena dan luar biasa darinya. Aku tahu dia menyadari peristiwa penting malam itu.Ya, malam itu adalah malam perayaan bertambahnya masa kedewasaanku. Ya. malam itu juga dia sudah berencana sangat matang, merasa yang terbaik baginya mempersiapkan kejutan istimewa untukku malam itu. Aku tersenyum menerima sebuah kado darinya, menerima sebuah kecupan kecil di kening darinya. Sejak malam itu semua memang menguji kedewasaanku.
            “Maaf,sebaiknya aku pergi dan kamu pergi.” Sebuah kado ucapan terakhir dari lelaki yang kini kunamai Subancuk. Setelah kejadian itu, “Aku mabuk dalam keadaan sadar dan kamu bercinta dalam keadaan sadar.”
                                                           
                                                                                             Aprilia A.K

Minggu, 05 Mei 2013

Cerita Anak


Kunang-Kunang dan Bintang-Bintang

Di suatu malam yang terang, duduklah dua kunang-kunang bersantai  di atas dedaunan. Mereka sedang asyik menikmati malam sambil membicarakan sesuatu.
“Hey nak, kenapa melamun seperti itu ?” tanya seorang ibu kunang-kunang kepada anaknya.
“Oh, tidak bu. Tidak apa-apa.” jawab Tio kepada ibunya.
“Ada apa sih?ayo cerita sama ibu. Dari tadi ibu lihat kamu serius sekali melihat langit di atas sana, ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya ibu kepada Tio.
“mmmm.. Bu, apa yang bersinar banyak di langit sana itu adalah kunang-kunang seperti kita bu?Apakah mereka juga teman-teman Tio?Kalau iya, Tio pengeeeen banget terbang ke langit sana, bertemu sama teman-teman di atas sana.” Tanya Tio kepada ibunya sambil menunjuk ke beberapa cahaya di langit.
“Ohhh, jadi dari tadi kamu diam saja itu lagi memikirkan bintang-bintang yang bersinar di langit sana?”
“Bintang bu?”
“Iya, yang kamu lihat di langit itu bukan kunang-kunang seperti kita, tapi mereka adalah bintang. Bintang adalah benda langit luar angkasa.”
“Kenapa mereka bisa seperti kita bu? Bisa bercahaya saat malam hari.” Tanya Tio penasaran kepada ibunya.
“Iya. Mereka memang  sama seperti kita. Tetapi mereka lebih besar dan cahayanya lebih terang dibanding kita. Jadi, kita tidak akan bisa mengalahkan kehebatan cahaya bintang.” ibu Tio menjelaskan.
“Oooo  kalau begitu Tio akan tetap pergi kesana bu. Tio mau ambil satu cahaya bintang, biar cahaya Tio lebih terang daripada cahaya teman kunang-kunang Tio yang lain juga lebih terang dari cahaya ibu.”
“Nak, kamu tidak akan bisa mengambil bintang di langit sana. Mereka terlalu besar, dan cahaya nya terlalu panas untukmu. Kamu akan luka atau mati jika terkena panasnya cahaya bintang.”
Tapi Tio tidak mendengarkan nasehat ibunya. Dia tetap ingin mengambil cahaya bintang.
***
Setiap harinya, Tio hanya berlatih dan berusaha untuk bisa terbang lebih tinggi. Segala cara dia lakukan. Mulai terbang dari pohon tertinggi di sekitar rumahnya, sampai memaksa seekor burung kecil untuk bisa membawanya ke langit sana dan mengambil bintang. Tapi semua yang ia lakukan selalu gagal.
Sampai pada suatu ketika, Tio mendapat ide yang sangat cemerlang saat ia sedang berlatih dan melihat ada sebuah pesawat yang terbang melewati atas kepalanya.“Wawwwwww, pesawat itu bisa terbang sangat tinggi sekali. Aku harus segera mencari tahu dimana pesawat itu dan kapan pesawat itu akan terbang lagi pada malam hari.” Pikir Tio cemerlang.
***
Malam-malam selanjutnya, sampailah Tio di sebuah bandara. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Sebelum menuju ke bandara, Tio sudah menyiapkan bekal makan malam, pakaian yang hangat dan satu buah botol untuk dijadikan tempat mengumpulkan cahaya bintang nantinya. Tetapi Tio pun pergi tanpa pamit kepada ibunya.
Tio sudah siap dengan perlengkapannya duduk di sayap pesawat terbang. Ia sudah tidak sabar untuk segera mengambil cahaya bintang, kemudian menelannya agar cahaya tersebut masuk ke dalam perutnya, lalu memamerkannya kepada semua teman-temannya bahwa cahaya di perut Tio lebih terang dibanding mereka.
Pesawat pun mulai terbang dengan baik, Tio terus berpegangan pada sayap pesawat sambil melihat ke arah bintang-bintang di langit. Di samping itu, Tio sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya sangat khawatir di hutan. Ibunya terus mencari dimana Tio berada, sambil sesekali menangis berteriak memanggil nama Tio.
Tio pun sudah sampai di langit, tetapi pesawat terbang itu pun ternyata tidak menuju bintang-bintang. Akhirnya Tio nekat untuk terbang sendiri dengan sayapnya menuju bintang. Di tengah perjalanannya ketika Tio mulai melihat ada cahaya besar, Tio terbawa oleh angin di langit yang sangat kencang, sehingga badannya terbang kesana kemari. Angin itu membentuk gumpalan besar dan membuat sayap-sayap Tio kesakitan dan sulit untuk terbang lagi hingga Tio terjatuh kembali ke daratan.
Tio memutuskan kembali ke rumah sambil terseret-seret karena kesakitan. Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang menangis. Tio langsung memeluk ibu, ia meminta maaf karena tidak mendengar nasehat ibunya. Ibu kunang-kunang pun membalas pelukan Tio dengan penuh kasih sayang.
Tio kemudian menceritakan perjalanannya mencari cahaya bintang kepada ibunya.
“Ibu, maafin Tio. Tio tidak menuruti perkataan ibu.”
“Iya Tio. Kamu harus berjanji tidak seperti ini lagi. Kita harus bersyukur kepada apa yang sudah Tuhan berikan buat kita. Toh, cahaya di perutmu ini sudah cukup melindungi kamu kan?”
“Iya ibu. Tio janji.”
“Kita dan bintang memang sama-sama mengeluarkan cahaya saat malam hari. Tetapi harus kamu sadari tubuh kita terlalu kecil untuk dibandingkan kekuatannya dengan bintang. Kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan kasih buat kita.Ingat ya nak.”

Oleh: Aprilia A. Kurniyati

Sabtu, 04 Mei 2013

TAPI




aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
   wah!

1976
Sutardji CB

Krik

Piaraan Aku :*

Kupanggil Namamu


Sambil menyeberangi sepi,
Kupanggili namamu, wanitaku
Apakah kau tak mendengar?

Malam yang berkeluh kesah
Memeluk jiwaku yang payah
Yang resah
Karena memberontak terhadap rumah
Memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala

Sia-sia kucari pancaran matamu
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa
Sia-sia
Tak ada yang bisa kucamkan
Sempurnalah kesepianku

Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi
Dan duabelas ekor serigala
Muncul dari masa silamku
Merobek-robek hatiku yang celaka

Berulangkali kupanggil namamu
Dimanakah engkau wanitaku?
Apakah engkau sudah menjadi masa silamku? 

ws.rendra

Kamis, 18 April 2013

EPISODE TERAKHIR


Darah menyembur
Memanasi ujung kepala
Aku tertegun
Lidahku kelu
Batinku berperang hebat
 
Tawaran itu...
Kepala mengangguk
Bukan!bukan tanda setuju
Tapi berusaha mengiyakannya

Air mata pecah satu-satu
Setengah tak mengerti
Setengah tak mendengar
Bising !

Sejak percakapan malam itu
usai...

Aku pergi dan kamu pergi
Aku berpesta dan kamu bercinta