Setangkup
Pesona Negeri Di Atas Awan
Perjalanan
kali ini sebenarnya adalah hadiah dari seseorang yang diam-diam sudah
mengenaliku sejak tiga tahun belakangan ini. Sebuah tempat yang berada di
dataran tinggi di kota Wonosobo. Letaknya berada di kawasan desa wisata
tertinggi di pulau Jawa. Namanya adalah Desa Wisata Sembungan. Daerah ini
menjadi salah satu tempat yang paling epic
untuk melihat sunrise terbaik di Indonesia dengan ketinggian sekitar 2300mdpl. Tempat
ini tidak pernah ramai dikunjungi. Ya, bagi kalian yang senang menyaksikan
terbit dan terbenamnya sang maha raja langit tentu saja tidak akan mau melewati
momen indah tersebut termasuk saya dan pria disamping saya ini. Sejak pertemuan
dengannya saya rasa perjalanan-perjalanan saya berikutnya menjadi teramat luar
biasa.
Perjalanan ke kota wonosobo
ini dimulai dari keberangkatan dari Jogja. Kami sengaja mengambil jalan
alternatif lewat kota Temanggung. Alasannya adalah saya ingin untuk ke sekian
kalinya menikmati berada di tengah-tengah gunung Sindoro dan gunung Sumbing
yang ketika sore akan memancarkan warna khas masing-masing gunung. Ini sangat
membelalakkan mata. Hanya saja pada perjalanan kali ini saya tidak mendapati
momen itu karena saat itu masih tepat siang hari dan gunung-gunung tersebut sedang
asri-asri nya berwarna hijau dengan patahan-patahannya.
Di kawasan perbatasan Temanggung- Wonosobo saya sudah
dikejutkan dengan rasa dingin yang mulai meraba-raba kulit saya. Ternyata red
parka yang saya gunakan saat itu belum cukup menghangatkan tubuh saya. Terlebih
ketika sudah sampai di perbukitan Dieng yang dinginnya bisa sampai minus
derajat.
Sepanjang jalan yang menjadi daya tarik oleh kedua mataku adalah banyaknya Masjid besar yang sedang dibangun. Subhanallah. Saya rasa semakin banyak umat muslim yang mencintai agamanya. Saya berharap ketika suatu saat kembali ke kota ini, akan ada banyak berdiri masjid-masjid Megah menembus awan, seolah ingin berlomba-lomba untuk sampai pada titik teratas keberadaan Tuhan.
Sepanjang jalan yang menjadi daya tarik oleh kedua mataku adalah banyaknya Masjid besar yang sedang dibangun. Subhanallah. Saya rasa semakin banyak umat muslim yang mencintai agamanya. Saya berharap ketika suatu saat kembali ke kota ini, akan ada banyak berdiri masjid-masjid Megah menembus awan, seolah ingin berlomba-lomba untuk sampai pada titik teratas keberadaan Tuhan.
Sampailah sore itu kami di desa wisata tersebut.
Diperjalanan mencari home stay,
bertemulah kami dengan seorang bapak-bapak yang menawarkan rumahnya untuk
menjadi alternatif tempat penginapan kami. Awalnya sempat ragu, tapi pada
akhirnya kami memutuskan untuk mengiyakan. Dengan tarif 75 ribu/kamar semalam, dengan
fasilitas cukup oke dan mendapat makan siapa yang ingin menolak? Kami
memutuskan untuk segera istirahat agar besok bisa bangun cepat.
| Para tamu dihidangkan minuman hangat, makanan berupa tempe kemul, dan tidak lupa tungku api yang manfaatable banget :) |
Pagi hari sekali, pria ini sudah membangunkanku. Dia tahu
sekali kalau saya susah bangun. Kami kemudian sholat Subuh dan langsung
melakukan perjalanan. Jam 5 pagi kami berangkat menuju telaga Cebong untuk
parkir. Setelahnya hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk naik ke puncak
Sikunir. Dengan sambil menahan rasa dingin menggigil yang luar biasa hampir
minus 5 derajat, akhirnya kami sampai di puncak Sikunir.
Dan yaaaaa. Kami semua
langsung disambut dengan terbitnya sang Maha Raja yang muncul perlahan sangat
manis dengan rona wajah yang kemerah-merahan. Setiap orang yang kesini mungkin
sudah lupa dengan rasa dingin yang menusuk memaksa masuk lewat pori-pori kulit
hingga sampai pada tulang setelah melihat hal tersebut. Ya, Sunrise masih tetap
milik kita bersama.| Susah sekali mendapat tempat yang bagus untuk mengambil view saat itu, karena pengunjung sedang ramainya datang. Alhasil inilah yang bisa saya abadikan. |
Perjalanan ini tidak ingin melewatkan kesempatan untuk lagi dan lagi mencicipi
hidangan penutup dan kuliner kota ini. Mie Ongklok, sate, geblek dan tempe kemul. Paduan
menu yang kami santap siang itu sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Setiap
selesai takjub memandangi karya Tuhan yang luar biasa, entah kenapa selalu ada
pertanyaan ini “Kenapa saya baru kesini?”. Tetapi rencana Tuhan selalu lebih
baik dari rencana umatNya. Terima kasih atas kesempatan kepada kedua bola mata
untuk bisa sejenak menyaksikan karya-karya Mu yang luar biasa megah ini Tuhan.
Untuk kedua telinga yang tiada ingin berhenti mendengarkan teriakan-teriakan
angin meski teramat bising. Untuk hidung yang sempat terkejut ketika menghirup
udara bersih yang dihasilkan oleh pepohonan kokoh ini. Dan untuk mulut yang
tiada hentinya berucap syukur atas keindahan dunia Mu.
So,
its time to say “I enjoy my life”.!!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar