I'm who I am (Ksatria Jambon)

Minggu, 05 Mei 2013

Cerita Anak


Kunang-Kunang dan Bintang-Bintang

Di suatu malam yang terang, duduklah dua kunang-kunang bersantai  di atas dedaunan. Mereka sedang asyik menikmati malam sambil membicarakan sesuatu.
“Hey nak, kenapa melamun seperti itu ?” tanya seorang ibu kunang-kunang kepada anaknya.
“Oh, tidak bu. Tidak apa-apa.” jawab Tio kepada ibunya.
“Ada apa sih?ayo cerita sama ibu. Dari tadi ibu lihat kamu serius sekali melihat langit di atas sana, ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya ibu kepada Tio.
“mmmm.. Bu, apa yang bersinar banyak di langit sana itu adalah kunang-kunang seperti kita bu?Apakah mereka juga teman-teman Tio?Kalau iya, Tio pengeeeen banget terbang ke langit sana, bertemu sama teman-teman di atas sana.” Tanya Tio kepada ibunya sambil menunjuk ke beberapa cahaya di langit.
“Ohhh, jadi dari tadi kamu diam saja itu lagi memikirkan bintang-bintang yang bersinar di langit sana?”
“Bintang bu?”
“Iya, yang kamu lihat di langit itu bukan kunang-kunang seperti kita, tapi mereka adalah bintang. Bintang adalah benda langit luar angkasa.”
“Kenapa mereka bisa seperti kita bu? Bisa bercahaya saat malam hari.” Tanya Tio penasaran kepada ibunya.
“Iya. Mereka memang  sama seperti kita. Tetapi mereka lebih besar dan cahayanya lebih terang dibanding kita. Jadi, kita tidak akan bisa mengalahkan kehebatan cahaya bintang.” ibu Tio menjelaskan.
“Oooo  kalau begitu Tio akan tetap pergi kesana bu. Tio mau ambil satu cahaya bintang, biar cahaya Tio lebih terang daripada cahaya teman kunang-kunang Tio yang lain juga lebih terang dari cahaya ibu.”
“Nak, kamu tidak akan bisa mengambil bintang di langit sana. Mereka terlalu besar, dan cahaya nya terlalu panas untukmu. Kamu akan luka atau mati jika terkena panasnya cahaya bintang.”
Tapi Tio tidak mendengarkan nasehat ibunya. Dia tetap ingin mengambil cahaya bintang.
***
Setiap harinya, Tio hanya berlatih dan berusaha untuk bisa terbang lebih tinggi. Segala cara dia lakukan. Mulai terbang dari pohon tertinggi di sekitar rumahnya, sampai memaksa seekor burung kecil untuk bisa membawanya ke langit sana dan mengambil bintang. Tapi semua yang ia lakukan selalu gagal.
Sampai pada suatu ketika, Tio mendapat ide yang sangat cemerlang saat ia sedang berlatih dan melihat ada sebuah pesawat yang terbang melewati atas kepalanya.“Wawwwwww, pesawat itu bisa terbang sangat tinggi sekali. Aku harus segera mencari tahu dimana pesawat itu dan kapan pesawat itu akan terbang lagi pada malam hari.” Pikir Tio cemerlang.
***
Malam-malam selanjutnya, sampailah Tio di sebuah bandara. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Sebelum menuju ke bandara, Tio sudah menyiapkan bekal makan malam, pakaian yang hangat dan satu buah botol untuk dijadikan tempat mengumpulkan cahaya bintang nantinya. Tetapi Tio pun pergi tanpa pamit kepada ibunya.
Tio sudah siap dengan perlengkapannya duduk di sayap pesawat terbang. Ia sudah tidak sabar untuk segera mengambil cahaya bintang, kemudian menelannya agar cahaya tersebut masuk ke dalam perutnya, lalu memamerkannya kepada semua teman-temannya bahwa cahaya di perut Tio lebih terang dibanding mereka.
Pesawat pun mulai terbang dengan baik, Tio terus berpegangan pada sayap pesawat sambil melihat ke arah bintang-bintang di langit. Di samping itu, Tio sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya sangat khawatir di hutan. Ibunya terus mencari dimana Tio berada, sambil sesekali menangis berteriak memanggil nama Tio.
Tio pun sudah sampai di langit, tetapi pesawat terbang itu pun ternyata tidak menuju bintang-bintang. Akhirnya Tio nekat untuk terbang sendiri dengan sayapnya menuju bintang. Di tengah perjalanannya ketika Tio mulai melihat ada cahaya besar, Tio terbawa oleh angin di langit yang sangat kencang, sehingga badannya terbang kesana kemari. Angin itu membentuk gumpalan besar dan membuat sayap-sayap Tio kesakitan dan sulit untuk terbang lagi hingga Tio terjatuh kembali ke daratan.
Tio memutuskan kembali ke rumah sambil terseret-seret karena kesakitan. Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang menangis. Tio langsung memeluk ibu, ia meminta maaf karena tidak mendengar nasehat ibunya. Ibu kunang-kunang pun membalas pelukan Tio dengan penuh kasih sayang.
Tio kemudian menceritakan perjalanannya mencari cahaya bintang kepada ibunya.
“Ibu, maafin Tio. Tio tidak menuruti perkataan ibu.”
“Iya Tio. Kamu harus berjanji tidak seperti ini lagi. Kita harus bersyukur kepada apa yang sudah Tuhan berikan buat kita. Toh, cahaya di perutmu ini sudah cukup melindungi kamu kan?”
“Iya ibu. Tio janji.”
“Kita dan bintang memang sama-sama mengeluarkan cahaya saat malam hari. Tetapi harus kamu sadari tubuh kita terlalu kecil untuk dibandingkan kekuatannya dengan bintang. Kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan kasih buat kita.Ingat ya nak.”

Oleh: Aprilia A. Kurniyati

Tidak ada komentar: