Kunang-Kunang dan Bintang-Bintang
Di
suatu malam yang terang, duduklah dua kunang-kunang bersantai di atas dedaunan. Mereka sedang asyik
menikmati malam sambil membicarakan sesuatu.
“Hey
nak, kenapa melamun seperti itu ?” tanya seorang ibu kunang-kunang kepada
anaknya.
“Oh,
tidak bu. Tidak apa-apa.” jawab Tio kepada ibunya.
“Ada
apa sih?ayo cerita sama ibu. Dari tadi ibu lihat kamu serius sekali melihat
langit di atas sana, ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya ibu kepada Tio.
“mmmm..
Bu, apa yang bersinar banyak di langit sana itu adalah kunang-kunang seperti
kita bu?Apakah mereka juga teman-teman Tio?Kalau iya, Tio pengeeeen banget
terbang ke langit sana, bertemu sama teman-teman di atas sana.” Tanya Tio
kepada ibunya sambil menunjuk ke beberapa cahaya di langit.
“Ohhh,
jadi dari tadi kamu diam saja itu lagi memikirkan bintang-bintang yang bersinar
di langit sana?”
“Bintang
bu?”
“Iya,
yang kamu lihat di langit itu bukan kunang-kunang seperti kita, tapi mereka
adalah bintang. Bintang adalah benda langit luar angkasa.”
“Kenapa
mereka bisa seperti kita bu? Bisa bercahaya saat malam hari.” Tanya Tio
penasaran kepada ibunya.
“Iya.
Mereka memang sama seperti kita. Tetapi
mereka lebih besar dan cahayanya lebih terang dibanding kita. Jadi, kita tidak
akan bisa mengalahkan kehebatan cahaya bintang.” ibu Tio menjelaskan.
“Oooo kalau begitu Tio akan tetap pergi kesana bu.
Tio mau ambil satu cahaya bintang, biar cahaya Tio lebih terang daripada cahaya
teman kunang-kunang Tio yang lain juga lebih terang dari cahaya ibu.”
“Nak,
kamu tidak akan bisa mengambil bintang di langit sana. Mereka terlalu besar,
dan cahaya nya terlalu panas untukmu. Kamu akan luka atau mati jika terkena
panasnya cahaya bintang.”
Tapi
Tio tidak mendengarkan nasehat ibunya. Dia tetap ingin mengambil cahaya
bintang.
***
Setiap
harinya, Tio hanya berlatih dan berusaha untuk bisa terbang lebih tinggi.
Segala cara dia lakukan. Mulai terbang dari pohon tertinggi di sekitar
rumahnya, sampai memaksa seekor burung kecil untuk bisa membawanya ke langit
sana dan mengambil bintang. Tapi semua yang ia lakukan selalu gagal.
Sampai
pada suatu ketika, Tio mendapat ide yang sangat cemerlang saat ia sedang
berlatih dan melihat ada sebuah pesawat yang terbang melewati atas
kepalanya.“Wawwwwww, pesawat itu bisa terbang sangat tinggi sekali. Aku harus
segera mencari tahu dimana pesawat itu dan kapan pesawat itu akan terbang lagi
pada malam hari.” Pikir Tio cemerlang.
***
Malam-malam
selanjutnya, sampailah Tio di sebuah bandara. Ia sudah mempersiapkan semuanya
dengan baik. Sebelum menuju ke bandara, Tio sudah menyiapkan bekal makan malam,
pakaian yang hangat dan satu buah botol untuk dijadikan tempat mengumpulkan
cahaya bintang nantinya. Tetapi Tio pun pergi tanpa pamit kepada ibunya.
Tio
sudah siap dengan perlengkapannya duduk di sayap pesawat terbang. Ia sudah
tidak sabar untuk segera mengambil cahaya bintang, kemudian menelannya agar
cahaya tersebut masuk ke dalam perutnya, lalu memamerkannya kepada semua
teman-temannya bahwa cahaya di perut Tio lebih terang dibanding mereka.
Pesawat
pun mulai terbang dengan baik, Tio terus berpegangan pada sayap pesawat sambil
melihat ke arah bintang-bintang di langit. Di samping itu, Tio sama sekali
tidak menyadari bahwa ibunya sangat khawatir di hutan. Ibunya terus mencari
dimana Tio berada, sambil sesekali menangis berteriak memanggil nama Tio.
Tio
pun sudah sampai di langit, tetapi pesawat terbang itu pun ternyata tidak
menuju bintang-bintang. Akhirnya Tio nekat untuk terbang sendiri dengan
sayapnya menuju bintang. Di tengah perjalanannya ketika Tio mulai melihat ada
cahaya besar, Tio terbawa oleh angin di langit yang sangat kencang, sehingga
badannya terbang kesana kemari. Angin itu membentuk gumpalan besar dan membuat
sayap-sayap Tio kesakitan dan sulit untuk terbang lagi hingga Tio terjatuh
kembali ke daratan.
Tio
memutuskan kembali ke rumah sambil terseret-seret karena kesakitan. Sesampainya
di rumah, ia melihat ibunya sedang menangis. Tio langsung memeluk ibu, ia
meminta maaf karena tidak mendengar nasehat ibunya. Ibu kunang-kunang pun
membalas pelukan Tio dengan penuh kasih sayang.
Tio
kemudian menceritakan perjalanannya mencari cahaya bintang kepada ibunya.
“Ibu,
maafin Tio. Tio tidak menuruti perkataan ibu.”
“Iya
Tio. Kamu harus berjanji tidak seperti ini lagi. Kita harus bersyukur kepada
apa yang sudah Tuhan berikan buat kita. Toh, cahaya di perutmu ini sudah cukup
melindungi kamu kan?”
“Iya
ibu. Tio janji.”
“Kita
dan bintang memang sama-sama mengeluarkan cahaya saat malam hari. Tetapi harus kamu sadari tubuh
kita terlalu kecil untuk dibandingkan kekuatannya dengan bintang. Kita harus mensyukuri apa yang telah Tuhan kasih buat kita.Ingat ya
nak.”
Oleh: Aprilia A. Kurniyati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar