I'm who I am (Ksatria Jambon)

Kamis, 05 Februari 2015

Sebuah Negeri Di Seberang Pulau

Masih dengan sebuah kota yang telah membentuk watak keras dalam diri saya. Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah menjadi pilihan destinasi wisata saya di awal tahun yang berkah ini. Sekaligus menjadi waktu buat saya bernostalgia dengan setiap keramaian, ketenangan bathin, teman, dan keluarga.

Kali ini saya akan tunjukkan pada teman-teman semua tentang beberapa sudut cantik kota ini. Oke, untuk kali ini saya akan bawa teman-teman semua melihat potongan landscape pantai yang telah saya abadikan.

Tujuan pertama saya adalah....Pantai Kubu. Dulu pertama kali kesini masih belum mendapatkan perhatian besar dari pemerintah, dan kalau sekarang sudah cukup layak menjadi tujuan wisata. Dengan dikenakan biaya retribusi yang sangat murah, kalian bisa santai pakai kacamata hitam, kaki diselonjorkan, tidur-tiduran, sambil minum es kelapa muda yang seger dan diiringi merdunya suara ombak yang dipecah karang.







Selamat Datang di Tanjung Keluang
Tujuan pertama, done. Waktu masih terlalu dini untuk memilih pulang. Maka dari itu, saya dan teman-teman konyol saya memutuskan untuk move keeeeeee....tet to ret to ret... Tanjung Keluang!. Yak, untuk menuju ke satu pulau di seberang pantai Kubu ini, kita harus menyewa perahu untuk memboyong kita ke daerah antah berantah menakjubkan itu.Tenang, harga sewa nya pun masih terhitung mu to the rah, murah. Apalagi kesananya rombongan. Bakalan jadi momen pecah kalian. Setelah deal harga dengan pemilik sang perahu, meluncurlah saya ke sebuah pulau yang telah membuat penasaran sepasang mata saya.

Tidak butuh waktu lama, sekitar 10-15 menit sampailah di tujuan wisata kedua. Dan, inilah yang bisa kalian temui disini.









Dengan biaya retribusi yang murah juga, disini kalian juga akan bisa sekali melihat telur Penyu, anak Penyu, Penyu besar, bahkan Penyu-penyuan alias patungnya saja. :D









Tempat ini masih sangat cantik dengan kesederhanaan nya, kealamiannya dengan ombak yang tenang, pasir yang halus, karang yang bersahabat, pohon-pohon yang menyejukkan, dan sentuhan angin pantai yang damai. Akan sangat tidak berperikemanusiaan, jika ada pengunjung yang dengan sengaja berniat merusak kesempurnaan itu. Saya harap lima atau sepuluh tahun ke depan, jika saya kembali kesini lagi saya masih menemui kesempurnaan yang sederhana ini disini, tetap dengan perasaan yang damai, dan tanpa kenakalan ulah manusia.

Ini waktunya saya pulang. Bersyukur atas nikmat Tuhan akan lensa mata yang begitu sempurnanya mengalahkan apapun. Dengan setting otomatis, dia bisa bergerak-gerak mengarah kemana apa yang harus dilihat, dia bisa zoom in dan zoom out tanpa secara penuh disadari, dia bisa mengatur kecerahan yang diperlukan dari apa yang kita lihat, dan sangat fokus. Subhanallah :)



Notes: (Januari 2015)
Biaya retribusi Tanjung Keluang : 7.500
Biaya retribusi Pantai Kubu : 3000
Biaya sewa perahu : 20.000/org

Rabu, 04 Februari 2015

Sudut Pesona Lain di Lereng Gunung Ungaran








Sudut Pesona Lain di Lereng Gunung Ungaran

Saya temukan lagi, pesona Semarang. Ya, here I am. Berkunjung ke situs-situs sejarah sepertinya tidak bisa dibilang kuno. Seperti halnya saya, berbeda dari destinasi-destinasi sebelumnya, cuaca di kota Jogja yang sedang panas-panasnya membawa tubuh saya ingin merasakan satu tempat yang sejuk di sudut kota Ungaran ini. Saya memilih Candi Gedong Songo untuk destinasi kali ini.
Tidak perlu resah karena berpikir tidak bisa menikmati perjalanan ini, sesampainya di sekitar Bandungan, kalian akan ditakjubkan beberapa hal selama perjalanan. Kalian akan menemukan deretan bunga-bunga cantik disana. Hal ini lantaran letak mereka yang berada di perbukitan secara otomatis menjadi pusat tanaman hias.
Tepat di parkiran, udara sejuk berburu-buru menyapa saya saat itu. Ketika mulai masuk menuju tempat wisata candi Gedong Songo, entah apa kaki saya mengarahkan ke sebuah jalan yang ternyata bebas dari pembayaran tiket masuk. How lucky I am. Haha... Sepanjang jalan mendaki jalan yang menanjak menuju candi satu ke candi lainnya, jangan heran jika teman-teman akan diikuti beberapa lelaki disana. Mereka adalah orang-orang yang akan menawarkan kepada pengunjung di candi tersebut untuk menyewa kuda, karena menuju banyak candi dengan jalan yang terus menanjak itu tidaklah cukup mudah. So, thats your choice. Saya akhirnya memilih menunggangi kuda untuk berkeliling Candi Gedong Songo tersebut. 
Melewati tanjakan pertama, all is okay. Menuju tanjakan berikutnya, bressss..Hujan deras beserta angin menyapa saya, dan kuda coklat ini. Pertama kali yang saya lakukan adalah mengamankan kamera slr saya. Ha ha, betapa buruknya saya saat itu, menunggangi kuda di jalan yang menanjak dan licin, saya agak takut kuda nya akan terpeleset, sedikit demi sedikit saya mulai kembung meminum air hujan yang singgah di sekitar mulut saya, memikirkan isi tas dan kamera saya yang sudah basah, dan perjalanan inipun tidak sebentar. Sampai di  bukit paling atas yaitu di sekitar candi ke delapan, meskipun hujan, ini sangat luar biasa. Saya dihadapkan pada pemandangan yang begitu cantik dengan butiran hujan yang mulai perlahan jatuhnya. Disana saya mendapati pesona beberapa gunung, candi yang satu persatu dapat saya lihat dari puncak bukit itu, pendopo-pendopo kecil dan keramahan para penjual minuman hangat. That's perfect guys.
Untuk beberapa waktu, hujan masih mengurung saya di sebuah pendopo kecil nan cantik. Setelah rintik hujan mulai terlihat sangat samar diantara pepohonan pinus, saya memutuskan untuk lanjut menelusuri kompleks Candi Gedong Songo ini. Saya putuskan, ini menjadi destinasi menakjubkan berikutnya yang ada dalam catatan saya.

Setiap kali saya dihadapkan dengan perjalanan menakjubkan seperti ini, satu hal yang sering saya lantunkan dalam hati. "Terima kasih Tuhan atas kesempatannya untuk bisa menikmati Maha Karya Mu."








Hanya ada lima candi disana dan mengapa disebut Candi Gedong Songo? So, lets come and join to be proud of Indonesia.



Pengalaman

             21 Januari 2015 liburan ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pun dimulai. Sebuah perjalanan singkat menuju suatu kota  kecil yang telah membentuk karakter saya sepanjang umur saya hingga saat ini. Perjalanan dimulai ketika pukul  6 pagi saya berangkat naik travel dari Jogja menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang. Tentunya dengan satu lelaki terbaik saya, T R. Dengan jarak tempuh selama 3 jam, akhirnya saya tiba di bandara. Sebuah kondisi yang ‘wow’ sekali bagi saya. Kondisi bandara yang sangat ramai pengunjung, fasilitas yang kurang terpenuhi, keramahan yang tidak saya temukan dari biasanya orang Jawa. Saya sempat berpikir, ini bandara atau stasiun kereta? So sorry to say, but it’s fact.

            Pukul 1.30 siang, berangkatlah saya dengan salah satu pesawat andalan Kalimantan. Pesawat baru yang cukup baik menurut saya. Perjalanan ini akan saya tempuh selama 45 menit. Singkat bukan? Tapi kali ini, perjalanan ini menjadi perjalanan pesawat yang terasa lama bagi saya. Masih terbayang ketakutan menaiki pesawat pasca berita jatuhnya Air Asia yang menewaskan kurang lebih 160 orang beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya take off dalam cuaca yang cukup buruk.


              Setengah jam berlalu, Pilot berbicara bahwa saat itu kami terbang dalam kondisi buruk. Saya masih tenang-tenang saja memandangi bingkisan yang diberikan oleh T R. Hujan mulai menyambangi jendela pesawat. Tiba-tiba kabut. Kami berada dalam awan mendung besar yang cukup panjang. Tidak terlihat apa-apa di bawah sana. Saya masih tenang. Kemudian seorang pramugari mulai mengingatkan bahwa kami sedang dalam penerbangan dengan keadaan buruk dan tetap tenang. Beberapa orang-orang tua di pesawat mulai panik dan terus menyerukan “Allahu Akbar”. Beberapa bayi menangis. Saya mulai tidak tenang. Masih dengan perasaan takut dan tangan yang memegang sebuah bingkisan dari T R, saya coba menenangkan diri saya. Saat itu saya bicara pada diri saya dan Tuhan, saya pasrah atas apa yang akan terjadi. 1 jam berlalu, pesawat juga belum keluar dari awan besar yang mendung tersebut. Hingga akhirnya setelah lama berputar-putar mencari titik terang,  15 menit kemudian saya melihat ada banyak rumah-rumah yang tampak seperti miniatur dari jauhnya jarak pandang saya. Alhamdulillah saya dibebaskan dari awan besar yang bisa saja menelan saya kapan saja dia mau.
         Saya sampai di sebuah bandara yang lebih tidak recommended. Tapi saya harus bilang recommended untuk landasan pacu nya. Begitu panjang, sehingga pesawat bisa landing dengan baik dan tidak tergesa-gesa. Masuk menuju ruang pengambilan barang, saya langsung dilihatkan dengan keadaan manusia-manusia normal yang bergerak seperti orang mabuk. Terburu-buru untuk mengambil barang sampai menabrak orang lainnya dengan troli yang besar. Menginjak alat pemindah barang seenaknya. Berteriak seperti sedang di hutan. Apakah mereka tidak bisa berpikir sehat dan mulai mencintai fasilitas seadanya ini? Pandangan saya tertuju pada satu pekerja di tempat itu. Dia berusaha mengingatkan para pendatang untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan berkali-kali, tapi hasilnya nol. Mereka bahkan dengan mudah cuek saja. Yaaa, Selamat datang di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun. Selamat berlibur di kota yang masih kecil, lugu, dan kental adatnya. Have Fun J