I'm who I am (Ksatria Jambon)

Sabtu, 20 Desember 2014

Setangkup Pesona Negeri Di Atas Awan


Setangkup Pesona Negeri Di Atas Awan

 Perjalanan kali ini sebenarnya adalah hadiah dari seseorang yang diam-diam sudah mengenaliku sejak tiga tahun belakangan ini. Sebuah tempat yang berada di dataran tinggi di kota Wonosobo. Letaknya berada di kawasan desa wisata tertinggi di pulau Jawa. Namanya adalah Desa Wisata Sembungan. Daerah ini menjadi salah satu tempat yang paling epic untuk melihat sunrise terbaik di Indonesia dengan ketinggian sekitar 2300mdpl. Tempat ini tidak pernah ramai dikunjungi. Ya, bagi kalian yang senang menyaksikan terbit dan terbenamnya sang maha raja langit tentu saja tidak akan mau melewati momen indah tersebut termasuk saya dan pria disamping saya ini. Sejak pertemuan dengannya saya rasa perjalanan-perjalanan saya berikutnya menjadi teramat luar biasa.

 Perjalanan ke kota wonosobo ini dimulai dari keberangkatan dari Jogja. Kami sengaja mengambil jalan alternatif lewat kota Temanggung. Alasannya adalah saya ingin untuk ke sekian kalinya menikmati berada di tengah-tengah gunung Sindoro dan gunung Sumbing yang ketika sore akan memancarkan warna khas masing-masing gunung. Ini sangat membelalakkan mata. Hanya saja pada perjalanan kali ini saya tidak mendapati momen itu karena saat itu masih tepat siang hari dan gunung-gunung tersebut sedang asri-asri nya berwarna hijau dengan patahan-patahannya.
Di kawasan perbatasan Temanggung- Wonosobo saya sudah dikejutkan dengan rasa dingin yang mulai meraba-raba kulit saya. Ternyata red parka yang saya gunakan saat itu belum cukup menghangatkan tubuh saya. Terlebih ketika sudah sampai di perbukitan Dieng yang dinginnya bisa sampai minus derajat.
 Sepanjang jalan yang menjadi daya tarik oleh kedua mataku adalah banyaknya Masjid besar yang sedang dibangun. Subhanallah. Saya rasa semakin banyak umat muslim yang mencintai agamanya. Saya berharap ketika suatu saat kembali ke kota ini, akan ada banyak berdiri masjid-masjid Megah menembus awan, seolah ingin berlomba-lomba untuk sampai pada titik teratas keberadaan Tuhan.

 Sampailah sore itu kami di desa wisata tersebut. Diperjalanan mencari home stay, bertemulah kami dengan seorang bapak-bapak yang menawarkan rumahnya untuk menjadi alternatif tempat penginapan kami. Awalnya sempat ragu, tapi pada akhirnya kami memutuskan untuk mengiyakan. Dengan tarif 75 ribu/kamar semalam, dengan fasilitas cukup oke dan mendapat makan siapa yang ingin menolak? Kami memutuskan untuk segera istirahat agar besok bisa bangun cepat.
Para tamu dihidangkan minuman hangat, makanan berupa tempe kemul, dan tidak lupa tungku api yang manfaatable banget :)
 Pagi hari sekali, pria ini sudah membangunkanku. Dia tahu sekali kalau saya susah bangun. Kami kemudian sholat Subuh dan langsung melakukan perjalanan. Jam 5 pagi kami berangkat menuju telaga Cebong untuk parkir. Setelahnya hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk naik ke puncak Sikunir. Dengan sambil menahan rasa dingin menggigil yang luar biasa hampir minus 5 derajat, akhirnya kami sampai di puncak Sikunir. 
Dan yaaaaa. Kami semua langsung disambut dengan terbitnya sang Maha Raja yang muncul perlahan sangat manis dengan rona wajah yang kemerah-merahan. Setiap orang yang kesini mungkin sudah lupa dengan rasa dingin yang menusuk memaksa masuk lewat pori-pori kulit hingga sampai pada tulang setelah melihat hal tersebut. Ya, Sunrise masih tetap milik kita bersama.

Susah sekali mendapat tempat yang bagus untuk mengambil view saat itu, karena pengunjung sedang ramainya datang. Alhasil inilah yang bisa saya abadikan.


Perjalanan ini tidak ingin melewatkan kesempatan untuk lagi dan lagi mencicipi hidangan penutup dan kuliner kota ini. Mie Ongklok, sate, geblek dan tempe kemul. Paduan menu yang kami santap siang itu sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Setiap selesai takjub memandangi karya Tuhan yang luar biasa, entah kenapa selalu ada pertanyaan ini “Kenapa saya baru kesini?”. Tetapi rencana Tuhan selalu lebih baik dari rencana umatNya. Terima kasih atas kesempatan kepada kedua bola mata untuk bisa sejenak menyaksikan karya-karya Mu yang luar biasa megah ini Tuhan. Untuk kedua telinga yang tiada ingin berhenti mendengarkan teriakan-teriakan angin meski teramat bising. Untuk hidung yang sempat terkejut ketika menghirup udara bersih yang dihasilkan oleh pepohonan kokoh ini. Dan untuk mulut yang tiada hentinya berucap syukur atas keindahan dunia Mu.
So, its time to say “I enjoy my life”.!!







Serigala Yang Rakus

Serigala Yang Rakus
Oleh: Aprilia

Suatu hari di sebuah hutan yang besar dan sejuk. Tinggallah dua hewan yang bersahabat. Mereka adalah seekor ayam dan seekor lebah.
Ayam   : “Pok pok pok pok pok..kukuruyuk..”
Lebah  : “mmmmmm zzzzzzzzzzz”
Ayam   : “Hei lebah, ayo kita main petak umpet.  Kamu yang jaga, aku yang sembunyi ya.”
Lebah :” Ayok. Aku hitung sampai 10 ya.”
Ayam   : “Oke deh. Pok pok pok petok”
Lebah  :”mmmmmm zzzzzz 1, 2, 3……
Dan tiba-tiba ketika ayam sedang asyik mencari tempat persembunyian, muncullah seekor Serigala yang sedang lapar sekali. Serigala ingin memakan ayam. Ia mengaung….
Serigala           : “Awrrrrrrr….Awwwrrrrrrrr….”
Ayam   :”Petokk petokkk petook pok pok pok..”
Serigala           :” Kamu, ngapain disini?”
Ayam   :”Aku…aku sedang bermain petak umpet.”
Serigala           :”Ini adalah tempatku. Pergi dari sini atau kau aku makan…..awwwwwwrrrrrr”
Ayam   :”ahhhh petok petok petok. Ampunnnnnnnnnn”
Serigala:” Aku makan kamu.”
Serigala mengejar ayam dan ingin memakannya. Ayam terus berlari.
Di sebuah pohon, lebah kemudian datang mendekati ayam. Dia bertanya mengapa ayam menangis.
Lebah  :”mmmmmm zzzzzzz Kenapa kamu menangis ayam?”
Ayam   :”Aku habis dikejar serigala, ia ingin memakanku.” (suara menangis)
Lebah  :”Serigala itu menganggu mu lagi? Jangan cemas, aku akan menemui nya sebentar. Aku pergi dulu ya.”
Lebah pun berniat menemui serigala untuk memberi pelajaran kepada Serigala. Setibanya di jalan, Lebah pun bertemu dengan Serigala yang lagi tertidur di bawah pohon.
Lebah  :”zzzzzzzz mmmmmmmmm hei kamu, bangun.”
Serigala           :”Hoaaaaaahm. Ada apa membangunkanku?awwwrrrrrrr”
Lebah  :“Kamu mengganggu sahabatku lagi, si Ayam?”
Serigala           :”Hahahaha iya, aku mau memakannya.Awrrrrrrrr”
Tiba-tiba Lebah langsung masuk ke telinga si Serigala. Serigala pun merasa gatal dan kesakitan. Ia berlari dan kemudian terjatuh di sungai. Lebah pun keluar dari telinga sang serigala.
Serigala           : “Awwww awwwww awwww. Awrrrrrrrrrrr”
Tanpa sengaja Ayam melihat Serigala terjatuh di Sungai. Iya langsung berlari dan berniat menolong Serigala
Ayam   :”Petok petok petok…pok pok pok Serigala, kamu baik-baik saja? Sini aku bantu untuk keluar dari sungai ini.
Serigala terengah-engah.
Serigala           :” Terima kasih Ayam. Maafkan aku, aku sempat ingin memakanmu.”
Ayam   :”Iya, tidak apa-apa. Aku sudah maafin kamu. Kamu jangan ulangi lagi ya.
Serigala           :”Iya”
Akhirnya Serigala pun menyadari kesalahannya. Ia sudah meminta maaf kepada Lebah dan Ayam.
*Sekian*



Kepada Lelaki Yang Datang

Kepada Lelaki Yang Datang

Malam itu ada yang datang kepadaku
Seperti ampas di bibir segelas kopiku
Seperti secarik nota di atas mejaku
Dia datang tanpa kehendakku

Tepat di depanku, temaram lampu di dekatnya
Rebahlah sinar, terang,  jatuh di garis matanya
Seketika aku serupa kumbang yang menemukan putik bunga
Kubiarkan saja waktu itu menetap sedikit lebih lama

Lelaki tampan berkulit putih ini mengerutkan kening
Sibuk meramu kata-kata untuk memulai percakapan
Tangannya menyatu di balik meja nomor sembilan
Bergerak gelisah bagai udara basah

Aku rasa sesuatu telah membekukannya
Mungkin saja retina mataku yang sedari tadi mengarah padanya
Lelaki ini tetap tidak mampu mengeluarkan suara
Tapi percepatan debar jantungnya telah mewakili segala perkataan yang ingin diucapkannya


Dia baru saja berkata!:
Di setiap pekat dan sunyinya malam
Akan selalu ada satu sinar diantaranya
Di setiap pekatnya butir kopi yang menempel di bibir gelas
Akan ada satu rasa manis diantaranya


April, 2013
Bjong Café
“TR”

                                                                                                                                    Aprilia A.K