I'm who I am (Ksatria Jambon)

Minggu, 31 Mei 2015

Daftar Nama Menu Makanan dan Minuman Unik di Yogyakarta

     Setelah hampir 4 tahun saya berada di kota ini, banyak yang telah berubah. Kali ini, saya mau membahas salah satu bagian di kota ini yang semakin banyak mengalami perubahan. Perubahan itu ada di bidang kuliner di Kota Yogyakarta ini, dan saya merasa hal itu semakin pesat berkembangnya adalah di waktu sekitar mulai setahun kemarin.

     Saya termasuk orang yang senang wisata kuliner, dan setahun belakangan ini saya merasa gagal menjajal semua rumah makan di kota ini. Gimana nggak? Misal hari ini saya menetapkan untuk datang ke rumah makan di salah satu daerah Seturan. Baru saja hari ini saya melihat daerah Seturan masih itu-itu saja tempat makannya, eh sebulan kemudian sudah banyak tempat makan seperti cafe, kedai, resto yang berjejer berjamur di sepanjang daerah ini. Hal seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di daerah Seturan, tetapi hampir di beberapa titik wilayah Kota Yogyakarta ini. Ini artinya dunia bisnis di bidang kuliner sedang meningkat tinggi di kota ini. Para pebisnis pintar mencari celah tentang apa yang sedang digemari oleh anak-anak muda sekarang-sekarang ini. See? Banyak sekali kafe-kafe baru di kota ini yang menawarkan konsep tempat yang klasik, asyik banget, nyaman sekali, bahkan ada yang 'nyeleneh' sekali. Selain itu, trik baru mereka dalam menarik konsumen di kota ini adalah dengan menciptakan nama tempat dan nama menu makanan serta minuman yang dapat menarik perhatian konsumen untuk mengunjungi tempat makannya. 

     Saya sangat apresiasi dengan ide kreatif mereka dalam bersaing di bidang kuliner ini dengan memanfaatkan kamus bahasa yang mereka miliki. Tidak jarang, kalau saya datang ke beberapa tempat makan baru di kota ini, saya sering senyam-senyum saja melihat nama tempat dan menu nya. Menurut saya, menu makanan dan minuman itu hampir semua tempat makan sama, hanya penyajian namanya saja yang 'nyeleneh'. Dan itu berhasil menarik perhatian saya ternyata. 

     Tidak berhenti hanya dengan mengunjungi beberapa tempat makan baru di kota ini, saya juga memanfaatkannya sebagai bahan skripsi saya. Ini masih menjadi hal yang menarik untuk saya bahas, gejala bahasa yang muncul di dunia kuliner ini. Banyak register baru yang bermunculan di setiap menu makanan dan minuman yang mereka sajikan.

     Nah. kalau dari tadi saya membahas masalah yang sedang menarik perhatian saya saat  ini. Saya juga mau kasih tau daftar list tempat makan beserta menu makanan dan minuman yang unik menurut saya di kota ini.  Tetapi itu ada di artikel yang berbeda ya. Semoga bisa menjadi alternatif pilihan teman-teman kalau lagi bingung mau mencoba menu kuliner apa ya kali ini.

Sabtu, 02 Mei 2015

"New Zealand" Indonesia

Siapa bilang destinasi wisata Jawa Tengah cuma gitu-gitu aja, pantainya standar tidak semenarik pantai-pantai di pulau luar seperti Pulau Weh, Pulau Kalimantan, Lombok atau Bali. Judgement seperti ini akan terpecahkan dengan fakta baru yang telah saya dapatkan.
Ini dia view nya…siapa yang berani menebak bahwa pemandangan seperti ini ada di Jawa Tengah?
partner traveller
Selamat datang di kota Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Inilah Pantai Menganti. Kalau saya bilang, ini ‘New Zealand’ nya negeri kita, Indonesia.  Informasi buat kalian yang belum tahu dengan tempat ini, saya rekomendasikan untuk kesana. Untuk masuk ke pantai ini, akan dikenakan biaya retribusi yang tidak ada apa-apanya dengan hasil yang akan didapatkan di pantai ini, hanya 6 ribu.
Jika dari arah kota Jogja, rute menuju ke tempat ini sudah cukup nyaman, disarankan untuk melewati jalur pinggir pantai, karena kondisi jalan yang baik, sehingga teman-teman semua tidak mengalami kesulitan di perjalanan. Perjalanan akan ditempuh sekitar 3 jam dengan kecepatan sedang. Nantinya di sepanjang perjalanan, teman-teman akan temui beberapa pantai yang berada di daerah ini. 
Jadi di pantai ini, selain dikelilingi oleh bukit-bukit besar yang membentang, saya pun disuguhkan dengan perahu yg berjejer milik para nelayan di daerah ini. Sangat rapi.


Perpaduan yang maha dahsyat, dalam satu waktu bisa merasakan hanyut dalam teduhnya saung-saung pantai, megahnya perbukitan hijau membentang, karang-karang besar tegas memecah ombak pantai, dan sentuhan keramahan para nelayan yang dipayungi langit biru Maha luas.
hasil foto diambil menggunakan kamera Asus Zenfone 3

Hijrah yang sangat sederhana sekali. Tapi ternyata Tuhan sangat berani membuat kesederhanaan ini menjadi kesan yang istimewa untuk saya. Subhanallah 

Jumat, 01 Mei 2015

7493

Dua puluh dua tahun silam
Telah ditiupkan roh pada seorang bayi
Di namainya 'kebahagiaan' oleh seorang ibu
Yang harum tubuhnya
Yang hangat dekapannya
Yang lembut sentuhnya


Kamis, 05 Februari 2015

Sebuah Negeri Di Seberang Pulau

Masih dengan sebuah kota yang telah membentuk watak keras dalam diri saya. Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah menjadi pilihan destinasi wisata saya di awal tahun yang berkah ini. Sekaligus menjadi waktu buat saya bernostalgia dengan setiap keramaian, ketenangan bathin, teman, dan keluarga.

Kali ini saya akan tunjukkan pada teman-teman semua tentang beberapa sudut cantik kota ini. Oke, untuk kali ini saya akan bawa teman-teman semua melihat potongan landscape pantai yang telah saya abadikan.

Tujuan pertama saya adalah....Pantai Kubu. Dulu pertama kali kesini masih belum mendapatkan perhatian besar dari pemerintah, dan kalau sekarang sudah cukup layak menjadi tujuan wisata. Dengan dikenakan biaya retribusi yang sangat murah, kalian bisa santai pakai kacamata hitam, kaki diselonjorkan, tidur-tiduran, sambil minum es kelapa muda yang seger dan diiringi merdunya suara ombak yang dipecah karang.







Selamat Datang di Tanjung Keluang
Tujuan pertama, done. Waktu masih terlalu dini untuk memilih pulang. Maka dari itu, saya dan teman-teman konyol saya memutuskan untuk move keeeeeee....tet to ret to ret... Tanjung Keluang!. Yak, untuk menuju ke satu pulau di seberang pantai Kubu ini, kita harus menyewa perahu untuk memboyong kita ke daerah antah berantah menakjubkan itu.Tenang, harga sewa nya pun masih terhitung mu to the rah, murah. Apalagi kesananya rombongan. Bakalan jadi momen pecah kalian. Setelah deal harga dengan pemilik sang perahu, meluncurlah saya ke sebuah pulau yang telah membuat penasaran sepasang mata saya.

Tidak butuh waktu lama, sekitar 10-15 menit sampailah di tujuan wisata kedua. Dan, inilah yang bisa kalian temui disini.









Dengan biaya retribusi yang murah juga, disini kalian juga akan bisa sekali melihat telur Penyu, anak Penyu, Penyu besar, bahkan Penyu-penyuan alias patungnya saja. :D









Tempat ini masih sangat cantik dengan kesederhanaan nya, kealamiannya dengan ombak yang tenang, pasir yang halus, karang yang bersahabat, pohon-pohon yang menyejukkan, dan sentuhan angin pantai yang damai. Akan sangat tidak berperikemanusiaan, jika ada pengunjung yang dengan sengaja berniat merusak kesempurnaan itu. Saya harap lima atau sepuluh tahun ke depan, jika saya kembali kesini lagi saya masih menemui kesempurnaan yang sederhana ini disini, tetap dengan perasaan yang damai, dan tanpa kenakalan ulah manusia.

Ini waktunya saya pulang. Bersyukur atas nikmat Tuhan akan lensa mata yang begitu sempurnanya mengalahkan apapun. Dengan setting otomatis, dia bisa bergerak-gerak mengarah kemana apa yang harus dilihat, dia bisa zoom in dan zoom out tanpa secara penuh disadari, dia bisa mengatur kecerahan yang diperlukan dari apa yang kita lihat, dan sangat fokus. Subhanallah :)



Notes: (Januari 2015)
Biaya retribusi Tanjung Keluang : 7.500
Biaya retribusi Pantai Kubu : 3000
Biaya sewa perahu : 20.000/org

Rabu, 04 Februari 2015

Sudut Pesona Lain di Lereng Gunung Ungaran








Sudut Pesona Lain di Lereng Gunung Ungaran

Saya temukan lagi, pesona Semarang. Ya, here I am. Berkunjung ke situs-situs sejarah sepertinya tidak bisa dibilang kuno. Seperti halnya saya, berbeda dari destinasi-destinasi sebelumnya, cuaca di kota Jogja yang sedang panas-panasnya membawa tubuh saya ingin merasakan satu tempat yang sejuk di sudut kota Ungaran ini. Saya memilih Candi Gedong Songo untuk destinasi kali ini.
Tidak perlu resah karena berpikir tidak bisa menikmati perjalanan ini, sesampainya di sekitar Bandungan, kalian akan ditakjubkan beberapa hal selama perjalanan. Kalian akan menemukan deretan bunga-bunga cantik disana. Hal ini lantaran letak mereka yang berada di perbukitan secara otomatis menjadi pusat tanaman hias.
Tepat di parkiran, udara sejuk berburu-buru menyapa saya saat itu. Ketika mulai masuk menuju tempat wisata candi Gedong Songo, entah apa kaki saya mengarahkan ke sebuah jalan yang ternyata bebas dari pembayaran tiket masuk. How lucky I am. Haha... Sepanjang jalan mendaki jalan yang menanjak menuju candi satu ke candi lainnya, jangan heran jika teman-teman akan diikuti beberapa lelaki disana. Mereka adalah orang-orang yang akan menawarkan kepada pengunjung di candi tersebut untuk menyewa kuda, karena menuju banyak candi dengan jalan yang terus menanjak itu tidaklah cukup mudah. So, thats your choice. Saya akhirnya memilih menunggangi kuda untuk berkeliling Candi Gedong Songo tersebut. 
Melewati tanjakan pertama, all is okay. Menuju tanjakan berikutnya, bressss..Hujan deras beserta angin menyapa saya, dan kuda coklat ini. Pertama kali yang saya lakukan adalah mengamankan kamera slr saya. Ha ha, betapa buruknya saya saat itu, menunggangi kuda di jalan yang menanjak dan licin, saya agak takut kuda nya akan terpeleset, sedikit demi sedikit saya mulai kembung meminum air hujan yang singgah di sekitar mulut saya, memikirkan isi tas dan kamera saya yang sudah basah, dan perjalanan inipun tidak sebentar. Sampai di  bukit paling atas yaitu di sekitar candi ke delapan, meskipun hujan, ini sangat luar biasa. Saya dihadapkan pada pemandangan yang begitu cantik dengan butiran hujan yang mulai perlahan jatuhnya. Disana saya mendapati pesona beberapa gunung, candi yang satu persatu dapat saya lihat dari puncak bukit itu, pendopo-pendopo kecil dan keramahan para penjual minuman hangat. That's perfect guys.
Untuk beberapa waktu, hujan masih mengurung saya di sebuah pendopo kecil nan cantik. Setelah rintik hujan mulai terlihat sangat samar diantara pepohonan pinus, saya memutuskan untuk lanjut menelusuri kompleks Candi Gedong Songo ini. Saya putuskan, ini menjadi destinasi menakjubkan berikutnya yang ada dalam catatan saya.

Setiap kali saya dihadapkan dengan perjalanan menakjubkan seperti ini, satu hal yang sering saya lantunkan dalam hati. "Terima kasih Tuhan atas kesempatannya untuk bisa menikmati Maha Karya Mu."








Hanya ada lima candi disana dan mengapa disebut Candi Gedong Songo? So, lets come and join to be proud of Indonesia.



Pengalaman

             21 Januari 2015 liburan ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pun dimulai. Sebuah perjalanan singkat menuju suatu kota  kecil yang telah membentuk karakter saya sepanjang umur saya hingga saat ini. Perjalanan dimulai ketika pukul  6 pagi saya berangkat naik travel dari Jogja menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang. Tentunya dengan satu lelaki terbaik saya, T R. Dengan jarak tempuh selama 3 jam, akhirnya saya tiba di bandara. Sebuah kondisi yang ‘wow’ sekali bagi saya. Kondisi bandara yang sangat ramai pengunjung, fasilitas yang kurang terpenuhi, keramahan yang tidak saya temukan dari biasanya orang Jawa. Saya sempat berpikir, ini bandara atau stasiun kereta? So sorry to say, but it’s fact.

            Pukul 1.30 siang, berangkatlah saya dengan salah satu pesawat andalan Kalimantan. Pesawat baru yang cukup baik menurut saya. Perjalanan ini akan saya tempuh selama 45 menit. Singkat bukan? Tapi kali ini, perjalanan ini menjadi perjalanan pesawat yang terasa lama bagi saya. Masih terbayang ketakutan menaiki pesawat pasca berita jatuhnya Air Asia yang menewaskan kurang lebih 160 orang beberapa waktu yang lalu. Kali ini saya take off dalam cuaca yang cukup buruk.


              Setengah jam berlalu, Pilot berbicara bahwa saat itu kami terbang dalam kondisi buruk. Saya masih tenang-tenang saja memandangi bingkisan yang diberikan oleh T R. Hujan mulai menyambangi jendela pesawat. Tiba-tiba kabut. Kami berada dalam awan mendung besar yang cukup panjang. Tidak terlihat apa-apa di bawah sana. Saya masih tenang. Kemudian seorang pramugari mulai mengingatkan bahwa kami sedang dalam penerbangan dengan keadaan buruk dan tetap tenang. Beberapa orang-orang tua di pesawat mulai panik dan terus menyerukan “Allahu Akbar”. Beberapa bayi menangis. Saya mulai tidak tenang. Masih dengan perasaan takut dan tangan yang memegang sebuah bingkisan dari T R, saya coba menenangkan diri saya. Saat itu saya bicara pada diri saya dan Tuhan, saya pasrah atas apa yang akan terjadi. 1 jam berlalu, pesawat juga belum keluar dari awan besar yang mendung tersebut. Hingga akhirnya setelah lama berputar-putar mencari titik terang,  15 menit kemudian saya melihat ada banyak rumah-rumah yang tampak seperti miniatur dari jauhnya jarak pandang saya. Alhamdulillah saya dibebaskan dari awan besar yang bisa saja menelan saya kapan saja dia mau.
         Saya sampai di sebuah bandara yang lebih tidak recommended. Tapi saya harus bilang recommended untuk landasan pacu nya. Begitu panjang, sehingga pesawat bisa landing dengan baik dan tidak tergesa-gesa. Masuk menuju ruang pengambilan barang, saya langsung dilihatkan dengan keadaan manusia-manusia normal yang bergerak seperti orang mabuk. Terburu-buru untuk mengambil barang sampai menabrak orang lainnya dengan troli yang besar. Menginjak alat pemindah barang seenaknya. Berteriak seperti sedang di hutan. Apakah mereka tidak bisa berpikir sehat dan mulai mencintai fasilitas seadanya ini? Pandangan saya tertuju pada satu pekerja di tempat itu. Dia berusaha mengingatkan para pendatang untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan berkali-kali, tapi hasilnya nol. Mereka bahkan dengan mudah cuek saja. Yaaa, Selamat datang di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun. Selamat berlibur di kota yang masih kecil, lugu, dan kental adatnya. Have Fun J




Sabtu, 20 Desember 2014

Setangkup Pesona Negeri Di Atas Awan


Setangkup Pesona Negeri Di Atas Awan

 Perjalanan kali ini sebenarnya adalah hadiah dari seseorang yang diam-diam sudah mengenaliku sejak tiga tahun belakangan ini. Sebuah tempat yang berada di dataran tinggi di kota Wonosobo. Letaknya berada di kawasan desa wisata tertinggi di pulau Jawa. Namanya adalah Desa Wisata Sembungan. Daerah ini menjadi salah satu tempat yang paling epic untuk melihat sunrise terbaik di Indonesia dengan ketinggian sekitar 2300mdpl. Tempat ini tidak pernah ramai dikunjungi. Ya, bagi kalian yang senang menyaksikan terbit dan terbenamnya sang maha raja langit tentu saja tidak akan mau melewati momen indah tersebut termasuk saya dan pria disamping saya ini. Sejak pertemuan dengannya saya rasa perjalanan-perjalanan saya berikutnya menjadi teramat luar biasa.

 Perjalanan ke kota wonosobo ini dimulai dari keberangkatan dari Jogja. Kami sengaja mengambil jalan alternatif lewat kota Temanggung. Alasannya adalah saya ingin untuk ke sekian kalinya menikmati berada di tengah-tengah gunung Sindoro dan gunung Sumbing yang ketika sore akan memancarkan warna khas masing-masing gunung. Ini sangat membelalakkan mata. Hanya saja pada perjalanan kali ini saya tidak mendapati momen itu karena saat itu masih tepat siang hari dan gunung-gunung tersebut sedang asri-asri nya berwarna hijau dengan patahan-patahannya.
Di kawasan perbatasan Temanggung- Wonosobo saya sudah dikejutkan dengan rasa dingin yang mulai meraba-raba kulit saya. Ternyata red parka yang saya gunakan saat itu belum cukup menghangatkan tubuh saya. Terlebih ketika sudah sampai di perbukitan Dieng yang dinginnya bisa sampai minus derajat.
 Sepanjang jalan yang menjadi daya tarik oleh kedua mataku adalah banyaknya Masjid besar yang sedang dibangun. Subhanallah. Saya rasa semakin banyak umat muslim yang mencintai agamanya. Saya berharap ketika suatu saat kembali ke kota ini, akan ada banyak berdiri masjid-masjid Megah menembus awan, seolah ingin berlomba-lomba untuk sampai pada titik teratas keberadaan Tuhan.

 Sampailah sore itu kami di desa wisata tersebut. Diperjalanan mencari home stay, bertemulah kami dengan seorang bapak-bapak yang menawarkan rumahnya untuk menjadi alternatif tempat penginapan kami. Awalnya sempat ragu, tapi pada akhirnya kami memutuskan untuk mengiyakan. Dengan tarif 75 ribu/kamar semalam, dengan fasilitas cukup oke dan mendapat makan siapa yang ingin menolak? Kami memutuskan untuk segera istirahat agar besok bisa bangun cepat.
Para tamu dihidangkan minuman hangat, makanan berupa tempe kemul, dan tidak lupa tungku api yang manfaatable banget :)
 Pagi hari sekali, pria ini sudah membangunkanku. Dia tahu sekali kalau saya susah bangun. Kami kemudian sholat Subuh dan langsung melakukan perjalanan. Jam 5 pagi kami berangkat menuju telaga Cebong untuk parkir. Setelahnya hanya butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk naik ke puncak Sikunir. Dengan sambil menahan rasa dingin menggigil yang luar biasa hampir minus 5 derajat, akhirnya kami sampai di puncak Sikunir. 
Dan yaaaaa. Kami semua langsung disambut dengan terbitnya sang Maha Raja yang muncul perlahan sangat manis dengan rona wajah yang kemerah-merahan. Setiap orang yang kesini mungkin sudah lupa dengan rasa dingin yang menusuk memaksa masuk lewat pori-pori kulit hingga sampai pada tulang setelah melihat hal tersebut. Ya, Sunrise masih tetap milik kita bersama.

Susah sekali mendapat tempat yang bagus untuk mengambil view saat itu, karena pengunjung sedang ramainya datang. Alhasil inilah yang bisa saya abadikan.


Perjalanan ini tidak ingin melewatkan kesempatan untuk lagi dan lagi mencicipi hidangan penutup dan kuliner kota ini. Mie Ongklok, sate, geblek dan tempe kemul. Paduan menu yang kami santap siang itu sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Setiap selesai takjub memandangi karya Tuhan yang luar biasa, entah kenapa selalu ada pertanyaan ini “Kenapa saya baru kesini?”. Tetapi rencana Tuhan selalu lebih baik dari rencana umatNya. Terima kasih atas kesempatan kepada kedua bola mata untuk bisa sejenak menyaksikan karya-karya Mu yang luar biasa megah ini Tuhan. Untuk kedua telinga yang tiada ingin berhenti mendengarkan teriakan-teriakan angin meski teramat bising. Untuk hidung yang sempat terkejut ketika menghirup udara bersih yang dihasilkan oleh pepohonan kokoh ini. Dan untuk mulut yang tiada hentinya berucap syukur atas keindahan dunia Mu.
So, its time to say “I enjoy my life”.!!