Semua pasti baik-baik saja, pikirku.
Masih ada waktu untuk mengambil nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya
sampai selega mungkin. Terlalu membohongi diri sendiri sepertinya. Jelas
diantara banyak anggota lain yang sedang terkumpul dalam rapat redaksi kali ini, sangat
tampak sekali bahwa akulah satu dari sekian banyak anggota lain yang sedang
tidak baik-baik saja. Pikiranku sudah mulai dihantui kekhawatiran, darahku
berdesir dan satu lagi, organ paling peka yang satu ini sedari tadi sudah
berdetak tak karuan seperti mendobrak untuk segera keluar dari tubuh ini. Oke!
Aku putuskan untuk pulang lebih awal sebelum rapat selesai. Aku bilang saja
‘magh’ ku kambuh lagi. Itu alasan klise, asal kalian tahu.
***
Ya. Kali ini bukan kali biasanya
yang aku rasa setiap mendatangi bangunan mini ini. Perlahan masuk kamar,
bercermin, berkipas sambil mengamati ruangan ini memastikan bahwa masih ada
graffiti namaku di sini. Untuk diketahui saja, ini caraku untuk mematikan
ketegangan di antara kami. Alhasil tidak berhasil. Aku masih saja dikepung rasa
ketakutan sendiri. Iya, dia begitu dingin padaku sampai untuk sekedar memulai
perbincangan pun aku was-was. Lidahku kelu, berkali-kali ingin memulai
pembicaraan tapi yang terjadi aku hanya melakukan hal bodoh seperti menelan
ludah tiada henti.
“Kamu
sakit?” aku mulai mengawali basa-basi.
“Sedikit
tidak enak badan sejak semalam.” Tuturnya dingin.
Aku
berusaha mengerti.
“Sudah
diperiksa?minum obat barangkali mas?”
“Tidak
ada waktu untuk periksa.”
Aku
mengerti dia sedang menyindirku.
“Aku
bisa menemanimu periksa, dan merawatmu. Tapi, itupun aku tidak memaksa. Kalau
kamu mau saja.”
“Tidak
perlu. Aku masih punya banyak hal yang harus segera diselesaikan.”
Aku
masih mengerti dengan kesibukan dari profesinya beberapa bulan ini.
Rasanya perih sekali harus seperti
ini. Masih terekam jelas, sejak beberapa bulan yang lalu tepatnya ketika dia
resmi berprofesi sedikit terpandang di kampusku. Dia sudah jarang lagi
menyapaku hangat, akupun tidak menyapa. Meskipun semua orang tahu kita terlalu
dekat untuk dipisahkan. Dia sudah tidak lagi menghubungiku bahkan
hanya untuk sekedar memberikan kabar tentang kesibukannya seharian dengan tetap
menggunakan panggilan sayang, jika tidak aku yang memulai menghubungi dan bertanya
baik-baik. Dia sudah tidak pernah menjengukku ketika aku terbaring sakit karena
memikirkannya, akupun mulai berani bersikap seperti itu. Dia sudah tidak pernah
lagi mengajakku pergi berlibur barang sehari dalam seminggu, aku mencoba
memaklumi dan mencari kesenanganku sendiri dan juga tetap memikirkannya. Dia
sudah lama tidak berbagi cerita dan masalah padaku, akupun ternyata mulai tidak
berani bercerita padanya. Segala ketakutanku
semakin memuncak, aku takut merepotkan, mengganggu kesibukan dia.
Dia sudah benar-benar tak ingin bicara apalagi
untuk menatapku. Ini bukan ‘kita’ yang dulu, berontakku dalam hati. Aku tidak
tahu harus kepada siapa menyalahkan kehadiran masalah ini. Aku sangat paham
sekali kita sama-sama berada dalam ketidaknyaman saat ini.
Kita masih sama-sama terlibat dalam
pembicaraan hebat pada masing-masing pikiran dan perasaan sendiri. Sesekali aku
menoleh ke arah laptopnya yang luar biasa di desain dengan sangat sangar,
berpura-pura asyik menyaksikan film barat yang sedang dia putar dan sedikit
juga tidak mau berkilah ingin mencuri kesempatan mengamati detail wajahnya.
“Kamu
terlihat capek sekali, mau aku suapin makan?”
“Tidak
perlu.”
“Ya
sudah, atau kamu mau aku pulang saja sayang?” kataku memelan.
“Jangan,
sebentar lagi.”
“Oh.”
Andai saja dia tahu, ada perempuan
yang menangis hatinya melihat kondisinya seperti sekarang ini. Teramat sangat
lusuh, rambutnya belum dipotong, badannya terlihat lebih kecil, jadi seperti
tidak terurus. Aku tidak terima jika profesi barunya menggerogoti badan dan semangatnya.
Bisa jadi dia semacam dipaksa melakukan tindakan diluar kehendak dan kesenangan
ya?atau mungkin dia punya masalah dengan keluarganya yang tidak aku
ketahui?atau ada beberapa teman yang menghancurkan mood dia hari ini?atau
mungkin dia sedang gelisah karena perempuannya yang lain belum juga menghubungi?atau
mungkin aku penyebab dari segala yang terjadi padanya,”Aku membebanimu?Maaf,
aku lancang menerka-nerka pikiranmu, entah sejak kapan aku mulai kurang
mempercayaimu. Mungkin saja sejak kita sama-sama menyimpan kebahagiaan dan
kesedihan masing-masing.” Pikirku.
Deg!!!!ini kali pertamanya sinar
mata itu seolah menghakimi. Darahku berdesir dan…barangkali ini salah, tapi
yang tertangkap oleh lensa mataku adalah sebuah tatapan ingin mencemooh. Aku
semakin dibuat ketakutan dengan sikap dingin itu. Berusaha untuk rileks,
mengatur nafas yang sedari beberapa bulan yang lalu tidak bisa terhembus lega
dan plong!!. ,ah yaa, sepertinya juga
harus benar-benar mempersiapkan hati
atas kemungkinan buruk yang terjadi bahwa setelah pertemuan ini cerita hidupku
tidak sama lagi.
Beberapa menit berlalu, tidak ada
yang bergerak diantara kami. Hanya dua pasang bola mata saling beradu.
Tepat jam 00.00, dia mulai bicara.
Kejutan yang sungguh mengena dan luar biasa darinya. Aku tahu dia menyadari
peristiwa penting malam itu.Ya, malam itu adalah malam perayaan bertambahnya masa
kedewasaanku. Ya. malam itu juga dia sudah berencana sangat matang, merasa yang
terbaik baginya mempersiapkan kejutan istimewa untukku malam itu. Aku tersenyum
menerima sebuah kado darinya, menerima sebuah kecupan kecil di kening darinya. Sejak
malam itu semua memang menguji kedewasaanku.
“Maaf,sebaiknya aku pergi dan kamu
pergi.” Sebuah kado ucapan terakhir dari lelaki yang kini kunamai Subancuk. Setelah kejadian itu, “Aku mabuk dalam keadaan sadar dan kamu
bercinta dalam keadaan sadar.”
Aprilia
A.K
